Time
Buku Tamu Saya
urut absen saja...
Hari ini....adakah diri di sini....???
Senin, 03 Agustus 2009
Maksimal...atau Optimal...???
12.47 |
Diposting oleh
agussupra |
Edit Entri
Suatu ketika saya mengunjungi sahabat dari sebuah lembaga pendidikan. Kebetulan beberapa dari orang tua siswa juga diundang datang karena anak-anaknya bermasalah dalam nilai yang diraihnya. Sebagai orang tua yang baik , tentunya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk bertanya sekaligus mencarikan pemecahan terbaik bagi anak-anaknya.
“Ibu.....anak ibu ini kurang.......mestinya.....dan sebaiknya kita harus.......maka anak kita bisa buat maksimal....bla...bla...bla.....” kata sahabat tersebut.
“Lalu bagaimana bu , anak saya khan.....jadinya.....Saya sendiri....bla bla.....makanya anak saya tidak maksimal....bla bla.....”sahut salah seorang ibu setengah membela anaknya.
......................................................................................................................................................
Sebuah mobil BMW dengan 4 penumpang melaju cepat di sebuah jalan tol. Sopir menginjak gas mobil itu sampai 170 km/jam. Kecepatan mobil itu belum maksimal , masih bisa lebih cepat lagi. Namun kenyamanan dan keselamatanlah yang menjadi pertimbangan sang sopir untuk tetap menahan laju mobilnya hanya 170 km/jam.
Ketika keluar dari jalan tol , mobil itu memasuki jalan perkampungan. Sang sopir menurunkan kecepatan mobil itu menjadi 20 km/jam. Kecepatan yang biasa ketika kendaraan memasuki jalan perkampungan.Tentu sang sopir bisa menambah laju mobilnya , namun itu tak dilakukannya.
Kecepatan mobil ketika berjalan menyusuri jalan perkampungan adalah kecepatan yang optimal untuk menjaga “keseimbangan” dengan situasi sekitarnya. Baik itu pejalan kaki abang becak , pedagang , dan juga kendaraan lain. Bisa saja mobil itu dilarikan dengan kecepatan 170 km/jam saat di jalan perkampungan. Namun pastilah tak akan menemukan “keseimbangan” dengan situasi dan suasana sekitarnya.Akibatnya kita bisa menjawab : pasti terjadi kecelakaan.
......................................................................................................................................................
Demikian juga dengan anak-anak kita. Apalagi anak-anak kita bukanlah mesin seperti mobil di atas. Mereka berubah setiap saat , berkembang. Sebaiknya kita mulai berpikir realistis , bahwa kemampuan satu dengan anak lainnya berbeda. Pemaksaan anak untuk “berjalan maksimal” justru akan merusak suasana anak yang sebenarnya. Karena hanya malu dan gengsi dengan tetangga yang anaknya menjadi super sibuk setelah masuk sekolah.
Lihatlah anak-anak sekarang dalam sebuah kenyataan . Bangun pagi , mandi , sarapan,sekolah dengan tas besar layaknya orang bekerja , pulang , bersihkan diri , ganti baju berangkat les ballet , pulang , pergi les musik , pulang , berangkat les Inggris , pulang sudah sore , mandi , makan malam , belajar untuk sekolah , mengerjakan PR . Terus dan terus demikian hampir setiap hari. Belum termasuk kegiatan sore sekolah dan omelan dari orang tua karena anaknya terlihat loyo dan tidak semangat. Anak-anak adalah tetap anak-anak.Mereka memiliki dunianya sendiri sebagai anak.Kewajiban kita sebagai orang tua adalah tidak merusak suasana anak-anak dalam pola dunia yang sedang dialami dan dijalaninya , tetapi tetap menjaga keseimbangan sambil membimbing anak dengan kemampuan yang dimilikinya. Dunia anak adalah dunia bermain dan bereksplorasi diri.
Membimbing dan memberikan tambahan kegiatan sah-sah saja hukumnya , namun sangat perlu diingat , melepaskan anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan menurut gambaran/pemikiran kita sangat perlu dikaji sebelumnya.Jangan sampai apa yang kita lakukan hanya membuat anak menjadi celaka kemudian karena dunia anak-anak kita renggut secara paksa. Orang tua bukanlah penguasa atas anak-anaknya , namun sebagai sebuah wadah bagi anak-anaknya menemukan dirinya.
Bukan kekuatan maksimal yang perlu kita kejar namun kekuatan yang muncul secara optimal dari anak yang perlu kita raih. Baik itu di rumah , lingkungan , dunia bermainnya atau di sekolah sekalipun.
Sederhana tetapi mempunyai makna dan cara yang sangat berbeda jika kita ingin memperolehnya.
“Ibu.....anak ibu ini kurang.......mestinya.....dan sebaiknya kita harus.......maka anak kita bisa buat maksimal....bla...bla...bla.....” kata sahabat tersebut.
“Lalu bagaimana bu , anak saya khan.....jadinya.....Saya sendiri....bla bla.....makanya anak saya tidak maksimal....bla bla.....”sahut salah seorang ibu setengah membela anaknya.
......................................................................................................................................................
Sebuah mobil BMW dengan 4 penumpang melaju cepat di sebuah jalan tol. Sopir menginjak gas mobil itu sampai 170 km/jam. Kecepatan mobil itu belum maksimal , masih bisa lebih cepat lagi. Namun kenyamanan dan keselamatanlah yang menjadi pertimbangan sang sopir untuk tetap menahan laju mobilnya hanya 170 km/jam.
Ketika keluar dari jalan tol , mobil itu memasuki jalan perkampungan. Sang sopir menurunkan kecepatan mobil itu menjadi 20 km/jam. Kecepatan yang biasa ketika kendaraan memasuki jalan perkampungan.Tentu sang sopir bisa menambah laju mobilnya , namun itu tak dilakukannya.
Kecepatan mobil ketika berjalan menyusuri jalan perkampungan adalah kecepatan yang optimal untuk menjaga “keseimbangan” dengan situasi sekitarnya. Baik itu pejalan kaki abang becak , pedagang , dan juga kendaraan lain. Bisa saja mobil itu dilarikan dengan kecepatan 170 km/jam saat di jalan perkampungan. Namun pastilah tak akan menemukan “keseimbangan” dengan situasi dan suasana sekitarnya.Akibatnya kita bisa menjawab : pasti terjadi kecelakaan.
......................................................................................................................................................
Demikian juga dengan anak-anak kita. Apalagi anak-anak kita bukanlah mesin seperti mobil di atas. Mereka berubah setiap saat , berkembang. Sebaiknya kita mulai berpikir realistis , bahwa kemampuan satu dengan anak lainnya berbeda. Pemaksaan anak untuk “berjalan maksimal” justru akan merusak suasana anak yang sebenarnya. Karena hanya malu dan gengsi dengan tetangga yang anaknya menjadi super sibuk setelah masuk sekolah.
Lihatlah anak-anak sekarang dalam sebuah kenyataan . Bangun pagi , mandi , sarapan,sekolah dengan tas besar layaknya orang bekerja , pulang , bersihkan diri , ganti baju berangkat les ballet , pulang , pergi les musik , pulang , berangkat les Inggris , pulang sudah sore , mandi , makan malam , belajar untuk sekolah , mengerjakan PR . Terus dan terus demikian hampir setiap hari. Belum termasuk kegiatan sore sekolah dan omelan dari orang tua karena anaknya terlihat loyo dan tidak semangat. Anak-anak adalah tetap anak-anak.Mereka memiliki dunianya sendiri sebagai anak.Kewajiban kita sebagai orang tua adalah tidak merusak suasana anak-anak dalam pola dunia yang sedang dialami dan dijalaninya , tetapi tetap menjaga keseimbangan sambil membimbing anak dengan kemampuan yang dimilikinya. Dunia anak adalah dunia bermain dan bereksplorasi diri.
Membimbing dan memberikan tambahan kegiatan sah-sah saja hukumnya , namun sangat perlu diingat , melepaskan anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan menurut gambaran/pemikiran kita sangat perlu dikaji sebelumnya.Jangan sampai apa yang kita lakukan hanya membuat anak menjadi celaka kemudian karena dunia anak-anak kita renggut secara paksa. Orang tua bukanlah penguasa atas anak-anaknya , namun sebagai sebuah wadah bagi anak-anaknya menemukan dirinya.
Bukan kekuatan maksimal yang perlu kita kejar namun kekuatan yang muncul secara optimal dari anak yang perlu kita raih. Baik itu di rumah , lingkungan , dunia bermainnya atau di sekolah sekalipun.
Sederhana tetapi mempunyai makna dan cara yang sangat berbeda jika kita ingin memperolehnya.
Label:
pendidikan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blog Archive
-
▼
2009
(32)
-
▼
Agustus
(28)
- Tau tuh...kenapa tiba-tiba blog saya hilang
- Jelaga Putih
- Satu lebih banyak
- Olimpiade , 4 Pelajar Indonesia Raih Juara
- Mbah Surip "Bob Marley" Indonesia
- Suplemen Bukan Pengganti Makanan !
- Pisang bagus Untuk Kesehatan
- Hindari Pemicu Migrain
- Situs di Tangerang Nyaris Musnah
- Sayangilah Ginjal Anda !
- Cara Cegah Hilangnya Penglihatan
- Lindungi Jantung Dengan Serat !
- Gangguan Tidur ? Cegah Dengan Buah !
- Jeruk Bali Cegah Penyakit Jantung
- Saturnus Menyimpan Air Laut
- 57 Ormas di Tangsel Ilegal
- Infeksi Gigi Sebabkan Penyakit Sistemik
- Agar Kulit Tetap Sehat di Musim Kemarau
- 5 Resep Miliki Kulit Sehat
- Anak Batuk Kering di Malam Hari , Bisa Jadi Asma !
- Pendidikan Musik Penting Untuk Otak Anak
- Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Dasar
- Kata Kerja Operasional Mata Pelajaran
- Kata Kerja Operasional Indikator
- Nyalimu Bak Pecundang
- Maksimal...atau Optimal...???
- PENDIDIKAN:Hakekat Anak Didik Dalam Dunia Pendidikan
- PENDIDIKAN:Tujuh Kunci Sukses Belajar
-
▼
Agustus
(28)
0 komentar:
Posting Komentar